Islam Menyongsong Indonesia Baru

May 22nd, 2008 by usie-yulia

MENEMBUS NASIONALISME MUHAMMAD:

Melacak Islam Menyongsong 

Indonesia Baru

Oleh Susi Juliani

 

 

Iftitah

 Dalam
konsepsi Emha Ainun Nadjip (1995:13), Islam yang ‘daya saingnya’ selalu
realistis, yang relevan abadi dan yang maqam
ruang-waktunya senantiasa aktual, kini ditatap oleh para pemeluknya dengan rasa
malu, bersalah, dan rasa penasaran kepada diri sendiri. Umat Islamnya amat
sibuk berkaca, menatapi wajah di cermin, baik untuk sekedar bersolek maupun
untuk merenung.

        Ada rasa asing kepada diri sendiri: sebuah
arus besar membawa mereka, berabad lamanya, entah ke mana. Maka alhamdulillah untuk rasa asing itu, kata
Sang Nabi Si Pembawa agama pamungkas, Islam melangkah dalam dan dengan
keasingan, kemudian di tengah perjalanannya ia akan berjumpa dengan keasingan
demi keasingan.

Terlepas dari itu semua, keasingan
dalam fleksibilitas mainstream semua
orang, jika kita ibaratkan demikian, menyergap manusia Indonesia saat ini. Hanya saja
keterasingan ini ‘membuncah’ tanpa kendali dalam arus hiperglobalisasi yang menimbulkan
kegelisahan. Bagaimana tidak. Manusia Indonesia seolah terpinggirkan
dalam arus besar yang mendorongnya untuk memiliki potensi luar biasa sebagai
modal utama persaingan hidup di dunia.

Hanya sayangnya, jangankan
mempersiapkan diri bersaing dengan kompetitor-kompetitor negara lain yang
tangguh. Masyarakat Indonesia malah sibuk hiruk pikuk, mondar-mandir, clingak
clinguk, ngalor ngidul
tak tentu tujuan hanya sekedar meraba-raba kira-kira
ingin menjadi siapa. Bahkan berebut untuk memposisikan diri menjadi masyarakat
yang dikatakan Guy Debord yang dikutip Yasraf Amir Piliang (2006:76) sebagai society of the spectacle: masyarakat
yang hampir segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan,
dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup.

     Dunia mungkin memang menyedihkan
lanjut Radar Panca Dahana (2007:9). Mungkin lantaran itu, begitu oksigen
pertama dunia kita hidup, rasa ngeri, sesal, dan nestapa kontan menyerbu,
sehingga kita meneriakannya dalam tangisan. Tak cukup dengan itu, dari detik
pertama kita ada (bahkan sejak dalam janin), ternyata kita sudah “menyerah”:
mau tak mau menerima tawaran (atau paksaan) dunia. Sesuatu yang tampak given walau sebenarnya choisen (tawaran).

     Dunia adalah tawaran yang dengan
begitu kerasnya mendesak kita sehingga kita tak lagi berpeluang menolaknya.
Betapapun itu mungkin dalam kealamiahannya. Maka begitulah kebudayaan dan
peradaban berjalan, meminta semua warga dan pengikutnya untuk serta, atau ia
akan menjadi alien di detik ia berani
menolaknya. Inilah bentuk penaklukan atau kolonialisme pertama yang paling
purba dalam sejarah manusia.

     Bukan saja adat istiadat, tradisi,
atau konvensi, dengan segala pernik dan dimensinya memenjara dan menelikung
sekujur hidup kita, mulai ranjang bayi kita pertama hingga ranjang di lahat
nanti. Tapi juga aturan budaya modern, dalam kehidupan sosial, politik,
ekonomi, kemudian meminta kita untuk menjadi makhluk yang “tak lagi bisa
memilih”. Menjadi manusia kalah dan menyerah secara total. Menjadi korban.
Menjadi insan yang jinak dan dijinakan. Kasian.

     Inilah sebenarnya inti permasalahan
itu. Terlalu sering kita hanya mengharapkan hasil yang optimal tanpa kerja
keras dan menyerah kepada nasib, lalau berkata: ini sudah takdir, ini sudah nasib, ya sudah bagaimana lagi tak bisa
dirubah.
Padahal kalimat ini ‘meluncur’ halus dari manusia yang tak pernah
berusaha dan bekerja keras selama masa hidupnya. Tak pernah sama sekali.
Manusia yang hidup tanpa perjuangan lalu dengan gampangnya ‘menuding” Tuhanlah
yang memiliki andil atas semua kelalaiannya itu.

     Barangkali benar apa yang dikatakan
Emha (1995:7), bahwa kita semua harus bercermin kepada Muhammad. Sebab ia bukan nabi tiban, nabi karbitan, bahkan nabi
dadakan. Semua pengetahuan tentang nilai alternatif yang ia dapat tidak datang
‘gratisan’ dari Tuhan, melainkan ‘dibeli’ olehnya dengan proses laku yang amat
panjang, sakit dan melelahkan. Muhammad yang manusia untuk menuju Muhammad yang
nabi, ia tempuh dengan cara yang sama persis seperti manusia siapa saja.

     Ia berjuang untuk jujur, berjuang
untuk tekun, berjuang untuk kontemplatif, berjuang untuk melibatkan diri dalam
masalah sosial, berjuang untuk senantiasa bertanya dan mempertanyakan, berjuang
untuk mengembangkan wawasan tentang persoalan masyarakat di sekitarnya.

     Lalu, akankah masyarakat Indonesia yang menggaungkan diri sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia ini
menjadikan Muhammad sebagai panutan dalam gerak langkah perjuangannya? Atau
hanya menyimpan Muhammad dalam bingkai kulit Kerbau yang hanya dipajang? Muhammad
hanya dijadikan sebuah fase dimana mereka diceritakan tentang setting masa kebodohan. Hikayat Sang
Pejuang yang mengendap dalam decak kagum tanpa penghayatan.

 

 

Humanisme Muhammad

     Dalam benak Karen Armstrong yang
ditulis dalam bukunya “Sejarah Muhammad” (2004:150), Muhammad adalah sosok
seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632 M, dia
telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru
atau ummah. Dia telah mempersembahkan
kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas yang secara unik sesuai dengan
tradisi mereka dan yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar,
sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri
yang luas membentang dari Himalaya hingga Perenia, dan membangun sebuah
peradaban yang unik.

     Namun, ketika Muhammad duduk berdo’a
di gua kecil bernama Hiro selama masa ibadahnya pada bulan Ramadhan tahun 610
M, dia tidak membayangkan kesuksesan fenomena seperti itu. Sebagaimana
kebanyakan orang Arab, Muhammad percaya bahwa Allah, Tuhan Tertinggi yang
namanya secara sederhana berati “Tuhan”. Dia juga percaya bahwa hanya seorang
nabi dari Tuhan yang akan mampu memecahkan masalah masyarakatnya, tetapi tak
sedikitpun terbetik dalam pikirannya bahwa dirinyalah yang akan menjadi utusan
Tuhan itu.

     Amat penting memperhatikan Muhammad
sebagai manusia biasa. Hingga usianya genap 40 tahun, wawasannya masih kurang,
sehingga Tuhan bilang: ‘Iqro,
bacalah. Lalu apa yang dibaca saat itu? Al Quran? Quran pun belum ada, baru beberapa
ayat pertama. Jadi, yang dimaksud bacalah adalah membaca problem disekitarmu.
Muhammad pun membaca. Hasilnya, bukan ini Arab itu non Arab, melainkan itu
Jahiliyyah ini Islam, itu kebodohan, ini
Ilmu (Emha Ainun Nadjip, 1995:7).

     Semua pengetahuan tentang nilai alternatif
itu tidak datang ‘gratisan’ dari Tuhan, melainkan ‘dibeli’ olehnya dengan laku
panjang, sakit dan melelahkan. Muhammad selalu merenung bertahun-tahun,
sendirian di tengah jaman edan yang bisa saja menikamkan pedang kapan saja ke
pertunya. Ia sendirian kontemplasi di Gua Hiro. Muhammad bersujud beratus kali
lebih lama dari manusia lain, berpuasa lebih lapar, belajar tanpa buku,
otodidak teladan. Itu semua tidak untuk cita-cita ke-Araban, melainkan
kemanusiaan dalam ke-Ilahian.

     Simbol-simbol humanis yang
ditampilkan Muhammad sebagai manusia biasa, sama sekali tidak berbeda dengan
manusia lain. Ia sama dengan para tetangganya yang miskin, seorang pekerja
keras sekaligus pemikir dan perenung. Proses yang dijalani dari Muhammad yang
manusia menuju Muhammad yang nabi dijalaninya dengan bekal kerja keras, sabar,
dan tawakal. Ia menjadi contoh keteladanan bagi seluruh manusia (QS. Al
Ahzab:21).

     Bahkan, dalam opini Muhammad Husain
Haikal (1992:78), bahwa Tuhan telah mendidik Muhammad dengan sangat baik.
Dengan sepenuh kalbu ia menghadapkan diri ke jalan lurus, kepada kebenaran yang
abadi. Ia telah menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh jiwanya agar
dapat memberi hidayah dan bimbingan kepada masyarakat yang sedang hanyut dalam
lembah kesesatan. Ia mencari kebenaran itu dengan persiapan jiwa, kalbu, dan
pikiran yang sudah begitu tinggi, membumbung melampaui jangkauan yang akan
dapat dibayangkan manusia.

 

 

 

Potret Buram Kaum Muslimin

Indonesia

     Kini
dunia Islam praktis merupakan kawasan bumi yang paling terbelakang diantara
penganut agama-agama besar lain. Negara-negara Islam jauh tertinggal oleh Eropa
Utara, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru yang Protestan; oleh Eropa
Selatan dan Amerika Selatan yang Katolik Roma; oleh Eropa Timur yang Katolik
Ortodoks; oleh “Israel” yang Yahudi; oleh Cina (“giant dragon”), Korea Selatan,
Taiwan, Hongkong dan Singapura (“little dragon”) yang Budhis-Konfusianis; oleh
Jepang yang Budhis Taois; dan oleh Thailand yang Budhis. Praktisnya, tidak satu
pun agama besar di muka bumi ini yang lebih rendah kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK)-nya daripada Islam (Nurcholish Madjid, 1997:21).

     Lalu, bagaimana dengan Indonesia,
republik yang mengklaim diri sebagai negara dengan komunitas Muslim terbesar di
dunia. Rasanya sama saja. Keterpurukan Indonesia malah lebih parah. Ibarat
sebuah penyakit, maka keterpurukan yang diderita negara kita bisa dikatakan
sudah stadium empat, akut dan menyedihkan. Bahkan dalam berita Kompas tentang
pemenang Nobel perdamaian tahun 2006 (Dahana, 2007:87), ada sindiran yang
tertuju untuk bangsa kita. Tanpa perlu mengulang alasan yang diungkap, rasa
malu itu sesungguhnya tertuju pada cara berpikir kita yang childish yang tak pernah berhasil mengukur dengan tepat atau
penghargaan apa yang pantas kita dapat dari hasil kerja yang kita buat. Selalu
ingin hasil luar biasa dari usaha kurang dari luar biasa.

     Kecenderungan masyarakat seperti
itu, didapat dari satu perkembangan karakter yang terlalu berorientasi pada
hasil puncak, tanpa memperdulikan cara, metode, atau modus kerja yang
didahuluinya. Tidak peduli pada waktu yang harus dijalani demi mendapatkan
sebuah kualitas. Dan ironisnya, orientasi hasil tersebut disilaukan atau
dipesona oleh kegelimangan-kegelimangan dunia industri, sistem kapitalis dan
kultur selebritis yang menyertainya.

     Iming-iming penghargaan yang sangat
tinggi pada dunia olahraga, kehidupan, artis film, musik perdagangan dan
pelbagai bujuk kapitalisme lainnya, membuat kita terpana. Lalu menyangka dunia
bebas yang ditawarkan itu memberi kesempatan yang sama pada siapa saja untuk
meraihnya. Padahal dusta. Kita merasa dapat menjadi David Becham dengan gaji
Rp.2 miliar seminggu, menjadi Britney Spears dengan royalti 11 juta keping
albumnya, atau menjadi Agnes Monica yang konon berhonor Rp.100 juta per episode
sinetronnya (Dahana, 2007:89).

     Publik semacam ini akan mengalami
kesulitan membayangkan, bahkan selembar kertas, sebuah peniti, apalagi chip sebesar lidi pun diproduksi
berlatar satu proses penemuan yang panjang. Dihasilkan dari keluh, keringat,
biaya, kerjasama ribuan ahli, juga kegagalan berkali-kali. Kita tidak peduli
itu semua. Kita merasa mampu meraihnya dalam sekejap. Hasil atau kejayaan
material itu telah membuat kita siap dan obsesif.

     Kenyataan itulah antara lain membuat
kita, bahkan tidak mampu menghargai kerja keras, termasuk manusia di sebelah
kita sendiri: teman, tetangga, atau mereka yang sebangsa. Kita justru ngotot mempertahankan Bajaj modifikasi
produk
India,
ketimbang Kancil yang lebih modis, akrab lingkungan dan dibuahkan oleh keringat
bangsa sendiri. Kita lebih memilih bis-bis bekas Cina atau Jepang, truk-truk
besar Korea
dan Amerika dibanding Perkasa produk lokal. Begitupun kereta api senang
memborong gerbong apkiran daripada gerbong asli buatan Madiun yang sudah lama
diekspor.

     Barangkali negara kita bukan saja
generasi pemangsa atau konsumtif, tapi juga pecandu apa pun yang bersifat
global, karena disanalah simbol kejayaan material terdapat. Simbol yang kadang
hanya terwakili oleh nama bukan substansinya.

     Bahkan, tradisi, bukan hanya ia yang
mendekam di situs purbakala, di masyarakat kuno, gedung-gedung tua atau
mengendap di masa lalu, tapi juga yang kita pertahankan di masa kini di abad
baru ini, melalui sebuah pematangan (2007:91). Wayang kulit, gamelan, Candi
Borobudur, Ukiran Bali, Tari Jaipong, atau Lenong Betawi, bukan satu hal yang
hadir karena karbitan atau suntikan zat kimia. Tapi dari ketekunan, disiplin,
dedikasi, etos kerja dan bakat yang terasah bersama waktu. Ratusan dan ribuan tahun.

     Karena adopsi teknologi modern oleh
Dunia Islam masih bersifat ad hoc dan
perennial (sepotong-sepotong) lanjut Cak Nur (1997:23), sehingga sebenarnya
kaum Muslim untuk tidak lebih dari sekedar sebagai pihak yang berada pada ujung
garis dinamika Iptek sebagai konsumen, bahkan sebagai pemakai akhir (end user). Tentu tidak ada salahnya,
namun jika hal itu tidak produktif, maka Kaum Muslim akan “ditakdirkan” sebagai
umat yang tergantung kepada umat lain. Jadi, semua tesis, keyakinan dan klaim
bahwa “Islam adalah paling unggul dan tidak akan diungguli oleh yang lain” akan
menjadi kosong dan muspra belaka.

     Inilah juga yang dialami Muslim di
negeri ini. Sedikit-sedikit ikutan mode, tren, tanpa tau proses dengan liku dan
waktu yang amat panjang untuk membuat sebuah produk. Muslim di negeri ini tidak
menghiraukan perjuangan , keringat, waktu yang terbuang untuk mendedikasikan
diri menjadi pribadi yang unggul. Bagaimana Indonesia akan mampu bersaing dalam
kancah persaingan global. Atau jangan-jangan Indonesia akan terlaknat ancaman
Tuhan karena meninggalkan sebuah peradaban tertinggal yang didalamnya terdapat
generasi muda yang lemah (QS.An Nisa;9). Mudah-mudahan jangan.

 

 

Nasionalisme Muhammad Sebuah Jawaban

 Sungguh,
manusia pilihan Tuhan itu telah datang, menjadi petunjuk bagi mereka yang
mengharapkan kebaikan Tuhan dan menunggu datangnya Kiamat tiba (Qs.Al
Ahzab:21). Ya, dialah Muhammad Sang Nabi Pamungkas Si Pembawa Pencerahan. Dia
yang dalam setiap gerak langkah hidupnya, setiap gagasan dan ide orisinilnya mampu
“menyihir” siapa pun, mampu mengubah peradaban dari keterpurukan ke dalam
kedamaian. Dialah contoh paling nyata yang sepatutnya dijadikan rujukan oleh
setiap umat di mana pun.

     Berbicara tentang nasionalisme,
barangkali banyak yang telah memberi pengertian dan pemaparan. Lebih dari itu,
nasionalisme yang diuraikan dalam tulisan ini mengarah kepada dari mana dan ke
mana nasionalisme dikelola. Penting sekali dipahami, bahwa nasionalisme dalam term ini merujuk kepada kepribadian
Muhammad yang notabene mengarahkan nasionalisme yang tidak terjebak pada
ekslusivisme. Islam tidak berada di bawah bayang-bayang negara. Ada pergumulan yang
sinergis bahwa Muhammad tidak membawa manusia menuju Arabisasi tetapi menuju
kemanusiaan dalam ke-Ilahian.

     Bahkan jika segala nilai hidup,
segala konsep dan isme, digali dan
dikelola oleh manusia (kualitas kepribadiannya), maka komitmen kebangsaan
Muhammad bukan saja tidak dibatasi oleh ras atau geografi. Bukan saja meluas ke
pembelaan atas kaum tertindas sebagai sebuah ‘bangsa’ tersendiri, namun bahkan
juga bersih dari kehendak kekuasaan dan nafsu ekonomi yang berlebihan. Muhammad
tidak mendirikan Negara Islam yang memaksa setiap warganya untuk beragama
Islam. Melainkan menyebarkan berita keselamatan setiap manusia dalam “laa ikraha fiddin” (1995:9).

     Hal ini menjadi teramat penting guna
mendongkrak kembali semangat perjuangan bangsa ini yang kian terpuruk,
terkikis, bahkan nyaris habis. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang telah
dipupuk bertahun-tahun, cape dan melelahkan oleh seorang pejuang panji
kebenaran Tuhan. Semangat untuk terus berjuang, meratap, merenung dan
bertahun-tahun untuk mengubah keadaan kaumnya yang carut marut.

     Kejahiliahan ketika jaman Nabi, kini
terjadi di Indonesia.
Bukan masa jahiliah yang identik dengan ketidaktahuan dalam membaca dan
menulis. Tetapi jahiliyah masa modern yang diartikan ketidaktahuan membaca,
mencermati, dan mencari solusi untuk keluar dari keterpurukan bangsanya.
Ketidakcermatan manusia untuk ‘membaca’ tanda dan kuasa Tuhan yang nampak di
bumi.

     Keterpurukan Indonesia semakin terbukti dengan
sikap mental masyarakatnya yang lemah. Janganlah untuk maju bersaing dengan
negara-negara lainnya. Hanya sekedar untuk merenungkan apa tujuan hidupnya saja
belimpungan. Ditanya tentang sejarah perjuangan Muhammad yang telah di-azzamkan sebagai Rasul pilihan, masih
terbengong-bengong, bingung dan heran. Jika begitu mau kemana negara yang
memiliki umat Muslim terbesar di dunia ini?

     Sangat wajar, jika mulai dari saat
ini, detik ini, kita semua belajar kembali mendalamai Al Quran. Belajar
mencermati denga teliti Al Quran berjalan itu. Ya, Al Quran berjalan. Dialah
Nabi Agung penutup para nabi, Muhammad bin Abdullah (HR. Ahmad dan Muslim dari
Aisyah Ra). Sebab dalam segala perbuatannya memberi pelajaran mahal bagi kita
untuk senantiasa berjuang, kerja keras, sabar, dan tawakal.

     Jika Indonesia ingin bangkit, maka
lihatlah perjuangan dan kerja keras Muhammad. Ia tak pernah pantang menyerah
untuk mengubah kaumnya yang terpuruk. Ia membuktikan diri menjadi pribadi yang
layak dan patut untuk bersaing dengan umat dari bangsa mana pun. Ia membuktikan
dirinya bahwa semasa hidupnya mampu membuat imperium yang sangat mengangumkan.
Hingga kini, di abad modern super canggih sekalipun tak ada yang sanggup
menandingi kepribadiannya. Ia selalu dijajaran terdepan dalam segala bidang dan
kreatifitas apa pun.

     Bangsa ini sedang terpuruk, sedang
meratap, bahkan tersungkur dari persaingan segala sektor di dunia. Sudah
saatnya kita singkirkan syak wasangka,
suudzon, merentang perbedaan apalagi
primoldialisme yang menjaga jarak untuk bersatu. Saatnya kita satukan langkah,
bahu membahu untuk menembus nasionalisme Muhammad guna menyongsong masa depan Indonesia yang
lebih baik lagi. Semoga.

 

Khatimah

     Tanda-tanda
keterpurukan Indonesia nampak semakin jelas. Bahkan umat Islam yang berada paling banyak di negara
khatulistiwa ini tak bisa berkutik, diam, seolah terhanyut dalam gelombang arus
modernitas. Kaum Muslimin menjadi pribadi lemah, pengekor, dan tak punya jati
diri. Parahnya untuk sekedar menemukan siapa dirinya saja terasa sulit.

     Kejahiliyahan yang merebak di negara
kita, membuat umat Muslim menutup mata dan berpura-pura tidak mendengar dengan
seruan Al Quran. Padahal mereka bisa saja melihat dan mencermati Sang Al Quran
berjalan itu, dialah Muhammad. Mereka bisa mengambil pelajaran berharga dari
perjuangan Sang Nabi. Keteladanan tentang kerja keras, keuletan, kesabaran dan
ketawakalan. Apalagi nasionalisme Muhammad yang memberi gambaran untuk terus
memperjuangkan kebenaran dan keadilan tanpa batas dan sekat ekslusivisme.

     Akhirnya, nilai dan perjuangan di
mata Allah dan hakikat kebenaran tidak ditentukan oleh berhasil tidaknya suatu
perjuangan. Melainkan ditentukan oleh kesetiaan daya juang sampai batas yang
seharusnya dilakukan (dikutip oleh Agus Ahmad Safei dalam Ensilkopedi Pemikiran
Emha Ainun Nadjip, 2002:20).

     Hidup tanpa tauhid tidaklah berarti,
hidup tanpa kemuliaan bagaikan sebuah kegelapan, hidup tanpa masa lalu yang
bersinar adalah musibah, hidup tanpa ada hal yang dapat dikenang adalah
kebinasaan, dan hidup tanpa keunggulan adalah sia-sia (Ali Yami, 2006:36).

     Wallahu’alam

 

 

Daftar Pustaka

Al Quran dan
terjemahnya.

Agus Ahmad Safei, 2002, Ensiklopedi Al Quran Pemikiran Emha Ainun Nadjip: Negeri Yang Malang , Yogyakarta,
Tinta.

Alfathri Aldin, dkk, 2006, Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, Bandung, Jalasutra.

Emha Ainun
Nadjip, 1995, Nasionalisme Muhammad, Yogyakarta, SIPRESS.

Karen Armstrong,
2004, Sejarah Tuhan, Bandung, Mizan Media Utama.

Muhammad bin Sarrar Al Yami, 2006, Menjadi Manusia Unggul, Jakarta, Maghfirah Pustaka.

Muhammad Husain Haekal, 1992, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta,
Litera Antar Nusa.

Nurcholish
Madjid, 1997, Kaki Langit Peradaban
Islam,
Jakarta,
Paramadina.

Radhar Panca dahana, 2007, Inikah Kita; Mozaik Manusia Indonesia, Yogyakarta,
Resist Book.

 

 

 

May 13th, 2008 by usie-yulia

JAWA
BARAT TANPA KIAMAT,

MENCERMIN
KEARIFAN MASYARAKAT ADAT

 

Oleh:

Susi
Juliani

 

Iftitah

 Tatkala banjir dan longsor
melanda, media massa dan masyarakat kerap salah sangka. Sering hujan dituding
sebagai sebab musababnya. Padahal, anggapan demikian patut disangsikan.
Setidak-tidaknya untuk kasus di wilayah Jawa Barat, khusunya untuk kota Bandung.
Jika Bandung dilanda banjir, betulkah penyebabnya adalah curah hujan yang
tinggi?

Dalam tulisan W.A van der Kaars dan
MAC yang dikutip Tim Sundalana (2007:5), yang berjudul A. 135.000 Year
record of Vegetational and Climatic Change from The Bandung Area, West Java,
Indonesia
, melaporkan bahwa curah hujan di cekungan Bandung selama 135.000
tahun menunjukan penurunan signifikan. Dalam laporan itu, disebutkan bahwa antara
135.000 hingga 80.000 tahun yang lalu, curah hujan di Cekungan Bandung
diperkirakan rata-rata 2.000 mm per tahun. Sejak 10.000 tahun yang lalu, curah
hujan di Cekungan Bandung bertahan pada posisi rata-rata 1.700 mm per tahun.

Data ini sudah lebih dari cukup
sebagai dasar faktual untuk ‘mengklaim’ bahwa curah hujan di Bandung terus
menurun dari tahun ke tahun. Dan manakala air hujan kian berkurang, mana
mungkin curah hujan ‘dituding’ sebagai penyebab longsor dan banjir yang kerap
melanda kota yang dijuluki Paris van Java-nya Indonesia itu.

Kesangsian ini didasari oleh sebuah
anasir bahwa manusia salah membaca gelagat alam. Kesalahan ini sebetulnya
menyiratkan kecenderungan banyak orang untuk mengabaikan ancaman yang
sesungguhnya terhadap kelangsungan ekosistem di balik rangkaian bencana alam
yang sering terjadi. Lagi pula, salah sangka sering berakibat salah kaprah.
Respons atas rangkaian bencana seringkali tidak memadai, tak ubahnya dengan
tindak tanduk orang yang terus menerus mengepel lantai sambil mengutuk langit
dan mencerca hujan, sedangkan atap rumah yang bocor tidak diperbaiki.

Nah, yang perlu menjadi bahan
pertimbangan adalah semua bencana yang terjadi, khususnya di Tatar Sunda
terjadi karena hutan yang ada telah rusak, hancur, bahkan hilang sama sekali.
Kehancuran hutanlah penyebab utama bencana alam tersebut. Mengerikan memang. Dari
catatan Walhi tahun 2003, dalam tiap menit luas hutan yang menghilang dari bumi
Indonesia setara dengan enam kali luas lapangan sepak bola. Bisa kita
bayangkan. Hanya dalam sehari saja, itupun barangkali ketika kita lelap
tertidur dalam buaian mimpi indah, sementara berhektar-hektar hutan binasa. Hingga
nuansa hijau di permukaan bumi kian terpupus saja.

Sayang sekali. Hutan di sekeliling
kita sudah tak terpelihara. Di Jawa Barat saja, menurut data dari Dewan
Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), hutan di wilayah ini normatif
tinggal 816.603 hektar. Karena kawasan lindung hancur. Pada tahun 2003 luas
lahan kritis telah mencapai 608.813 hektar. Inilah yang menyebabkan terjadinya
erosi kolosal dimana-mana. Tanah subur dari puncak-puncak gunung tergerus air
hujan lalu hanyut dan mengendap di sungai, danau, dan laut, yang jumlahnya
mencapai 32.931.061 ton per tahun.

Keadaan seburuk itu, lambat laun
bakal memupus citra Tatar Sunda yang terkenal sebagai kawasan elok dengan
bebukitan dan pegunungan yang sejuk. Citra alam seelok itu, juga budaya
masyarakatnya yang selaras dengannya, hanya bisa terpelihara apabila hutannya
memang terjaga. Sedangkan kini, Tatar Sunda yang cur-cor caina itu telah
dilanda malapetaka besar yang mengancam nasib anak cucunya kelak.

Kini, sebelum semuanya terlambat,
sudah selayaknya sebagai urang Sunda kembali mengaplikasikan
konsep-konsep ekologi karuhun-karuhun urang yang memang sangat
bersahabat dengan alam (enviro friendly). Tak ada salahnya jika konsep
ekologi sunda dijadikan salah satu alternatif menuju visi Jawa Barat yang ingin
membentuk masyarakat Jawa Barat sejahtera, sehat lahir dan batin. Namun,
sebelum itu, mari kita mulai untuk memetakan terlebih dahulu potensi terbesar
yang dimiliki manusia dengan akalnya.

 

Akal “Mesin
Penggerak” Manusia

 Manusia sebagai suatu fenomena,
dapat dikatakan sama dengan makhluk lain sebagai sebuah fenomena, khusunya
dengan makhluk hidup. Manusia tunduk kepada hukum alam (sunatullah), mengalami
kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, kematian, dan seterusnya. Namun, asumsi
berbeda dikatakan Nursid Sumaatmadja (2003:7), bahwa manusia memiliki kelainan
hakiki yang berbeda dengan makhluk lain, khusunya dengan makhluk hidup. Al
Aqli
yang diberikan Al Khaliq kepada manusia menjadi kunci utama
perbedaan manusia dengan makhluk hidup non manusia. Meskipun menurut sejarah,
manusia itu merupakan makhluk hidup yang termuda, ia telah membawa perubahan
ruang muka bumi yang sangat berbeda dengan keadaan sebelum makhluk yang disebut
manusia lahir.

Manusia sebagai ciptaan Tuhan, tidak
dapat ditelaah hanya sebagai fenomena alam semata. Dan sebagai malkhluk yang
berakal, juga tidak dapat ditelaah hanya sebagai fenomena budaya. Dalam diri
manusia selaku makhluk, melekat fenomena alam dan juga fenomena budaya. Hal
inilah yang menjadi keunikan manusia.

Sebagai makhluk yang terikat oleh
kesatuan utuh dengan alam lingkungan yang dilengkapi oleh kemampuan budaya
dalam menggali, mengolah, memanfaakan alam sebagai sumber daya, tidak hanya
dituntut tanggung jawab teknis dan IPTEK semata. Namun juga dituntut tanggung
jawab moral untuk menjaga kelestariannya. Keutuhan manusia itu bukan hanya pada
sosok moral dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi (QS Al Baqoroh:30).
Atau malah justru sebaliknya, sebagai makhluk hidup yang keberadaannya termuda
dibanding makhluk lain, malah menjadi faktor pemicu kerusakan alam dengan
sumber dayanya. Disinilah, letak kewajiban yang terpadu antara pendidikan
intelektual, pendidikan keterampilan, dan tentu saja pendidikan agama, nilai,
dan etika.

Untuk mengamati tanda-tanda
kekuasaan-Nya, mempelajari ayat-ayat-Nya, dan mengenalkan apa yang harus
dilakukan dan ditinggalkan, perlu proses belajar. Cara belajar yang tepat akan
membuat seseorang benar dan cepat memperoleh sebuah kebenaran ilmu. Tak cuma
itu, seseorang yang belajar harus juga memiliki hati yang tulus. Seperti
ungkapan Anwar Sanusi (2007:xi) yang diilhami dari kish Ali Ramitani tentang
perbandingan murid yang baik dan yang lebih baik. “Seorang murid yang baik
bertanya,’Ajari aku bagaimana cara belajar dan apa yang harus kupelajari.’
Murid yang lebih bijaksana lagi berdoa,’Izinkan aku setulusnya berharap bisa
mempelajari bagaimana cara belajar”.

Perlu menjadi catatan, bahwa
ketulusan itu melahirkan kecintaan kepada-Nya. Seperti cinta seseorang kepada
pujaannya, ia tulus melakukan apa saja demi menyenangkan sang pujaan hati. Jika
begitu, kecintaan kepada Alah pun akan melahirkan kecintaan kepada makhluk-Nya.
Ketika itu, ia pun akan dicintai oleh para makhluk-Nya di bumi. Sebaliknya,
jika kita mencintai yang ada di bumi, maka penghuni langit akan mencintainya.
Oleh sebab itu, kita sering mendengan ucapan, “Cintailah apa-apa yang ada di
bumi, niscaya kau akan dicintai apa-apa yang ada di langit”.

Begitulah manusia, ia bisa menjadi
pembawa rahmat bagi bumi dan akan dicintai oleh seluruh makhluk di jagat raya
ini. Namun, ia pun bisa menjadi pembawa malapetaka yang akan dibenci bukan saja
oleh seluruh makhluk di jagat raya, tetapi akan dibenci oleh Penciptanya. Dalam
proses ini, manusia perlu mempunyai six senses untuk menelaah bagaimana
seandainya ia berbuat salah. Kerusakan maha dahsyat apa yang mungkin bisa
terjadi. Longsornya Leuwi Gajah atapun banjir yang selalu melanda wilayah
Dayeuh Kolot setiap tahunnya, hanyalah sebagian tanda-tanda Kekuasaan Tuhan
yang itupun bukti kecerobohan manusia yang salah memaksimalkan potensi akalnya
dengan baik.

 

Paradigma Ekologi
Sunda, Sebuah Kearifan Tradisional

 Sonny Keraf dalam bukunya Etika
Lingkungan (2002), mengatakan bahwa kearifan tradisional adalah semua bentuk
pengetahuan, keyakinan, pemahaman , dan wawasan serta adat kebiasaan atau etika
yang menuntut perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis.
Seluruh kearifan tradisional ini dihayati, dipraktekkan, diajarkan, dan
diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Sekaligus juga kearifan
itu membentuk pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap sesama manusia
maupun terhadap alam yang gaib.

Manusia sebagai bagian integral dari
alam dengan perilaku penuh sikap hormat, peduli dan tanggung jawab terhadap
kesinambungan kehidupan di alam semesta, telah menjadi cara pandang dan tata
kehidupan berbagai masyarakat adat di seluruh dunia. Menurut The World
Conservation Union
(lihat Tim Sundalana, 2007:102), dari sekitar 6.000
kebudayaan di muka bumi, sebanyak 4.000 hingga 5.000 diantaranya adalah
masyarakat adat. Ini berarti bahwa jumlah komunitas masyarakat adat kurang
lebih 75 % dari semua masyarakat budaya di muka bumi. Banyak bukti, bahwa cara
pandang dan tata kehidupan masyarakat adat ini telah berhasil menyelamatkan
alam dan lingkungan hidup di sekitar kawasan pemukimannya.

Kearifan masyarakat adat terhadap
alam masih dapat kita jumpai di kalangan masyarakat Kasepuhan atau Baduy di
kawasan ekosistem Gunung Halimun (2007:102). Di tengah ancaman perusakan
lingkungan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, masyarakat adat Baduy
sangat dikenal dalam mempertahankan kearifan tradisional dan terbukti mampu
menyelamatkan alam sekitarnya. Masyarakat Baduy memiliki pemahaman bahwa hutan
sebagai kawasan lindung adalah kehidupan, dan mengklasifikasikannya dalam 3
kelas, yakni leuweung titipan, leuweung tutupan, dan leuweung
garapan.

Leuweung Titipan (leuweung kolot,
leuweung larangan, leuweung sirah cai)
adalah kawasan hutan yang sama sekali
tidak boleh ditunggu oleh manusia. Kata titipan merupakan amanat dari
Tuhan (Gusti Nu Kawasa) dan para leluhur (karuhun) untuk dijaga
keutuhannya. Tidak boleh diganggu gugat dan harus dipertahankan dari segala
usaha dan ancaman dari pihak-pihak luar. Leuweung titipan ini biasanya
berada di daerah atas atau puncak gunung.

Leuweung Tutupan adalah
kawasan hutan cadangan yang pada saat tertentu bias digunakan jika memang perlu
(leuweung awian). Pengertian tutupan ibarat pintu yang bias dibuka dan
ditutup sesuai keperluan menurut pemahaman masyarakat ini. Di dalam leuweung awian ini terdapat
istilah kabendon (kualat) bila melanggar aturan. Manusia
diijinkan masuk hanya dengan tujuan pengambilan hasil non kayu seperti: rotan,
getah, madu, buah-buahan, umbi-umbian, obat-obatan, dan lainnya. Setiap
penebangan satu batang pohon di leuweung tutupan harus segera diganti
dengan pohon yang baru.

Leuweung Garapan (leuweung
baladaheun, leuweung sampalan, leuweung lembur
) adalah kawasan hutan yang
dibuka menjadi lahan yang dibudidayakan oleh masyarakat untuk berhuma atau
berladang. Pengusahaan huma atau ladang dilakukan secara rotasi atau gilir
balik minimal 3 tahun sekali. Leuweung garapan biasanya di kawasan yang
relatif lebih datar di kaki gunung.

Gambaran tersebut sesuai dengan adat
yang dipertahankan pula oleh komunitas masyarakat Sunda di Kampung Naga.
Kampung Naga, memiliki empat ciri ekologis yang masih tetap dipertahankan
hingga kini (Suganda, 2006:7).

Ciri ekologis pertama adalah rona lingkungan hidup biogeofisik kampung
tersebut berbeda dengan kampung-kampung masyarakat Sunda di sekitarnya. Pada
daerah yang letaknya di sebelah hulu yang berbentuk punggung bukit, wilayahnya
merupakan hutan alam yang relatif masih utuh. Sehingga fungsi hidrologinya
masih berperan baik menjadi sumber daya air. Sementara bagian punggung bukit
yang letaknya berdampingan dengan tempat permukiman mereka, ditanami berbagai
jenis pohon. Dengan demikian, hutan bagi warga Kampung Naga mempunyai fungsi
sebagai “bank pangan” dan sekaligus “apotek hidup”.

Ciri ekologis kedua, hutan tersebut
berfungsi sebagai penyangga ketahanan lereng dan bukit dari kemungkinan
terjadinya bencana longsor atau banjir pada musim hujan. Atau sebaliknya, kekeringan
pada musim kemarau.

Ciri ekologis ketiga adalah kawasan
yang dijadikan pemukimannya. Di dalamnya termasuk bentuk bangunan, bahan-bahan
yang digunakan, dan pembagian kawasan wilayahnya. Bahkan arsitektur bangunan
yang mereka tempati merupakan bangunan rumah yang masih tetap mencerminkan
arsitektur tradisional Sunda yang penuh dengan kandungan nilai-nilai filosofis.
Kesetiaan mempertahankan bentuk bangunan rumah mereka itu seharusnyalah mereka
memperoleh penghargaan dan perlindungan, paling tidak dari masyarakat Sunda
sendiri.

Ciri ekologis keempat yakni
masyarakat Kampung Naga memiliki kekayaan berupa keanekaragaman sumber daya
alam hayati. Berdasarkan penelitian Sri Haryati, di kampung Naga diidentifikasi
tidak kurang dari 39 jenis tanaman dan tumbuhan yang dipelihara dan
dikembangkan oleh masyarakatnya. Di sana dijumpai 10 kultivar jenis padi, 13
kultivar ubi kayu, dan 39 kultivar jenis pisang (Suganda, 2006:7-8).

 

Manifestasi
Konsep Ekologi Sunda, Solusi Menuju Jawa Barat Ramah Lingkungan

 Konsep untuk berbuat ramah
terhadap lingkungan adalah konsep mulia yang diajarkan karuhun urang.
Bukan saja urang Sunda yang siap dengan konsep itu, akan tetapi seiring
sejalan dengan apa yang diajarakan Rasulullah kepada umatnya dalam ajaran
Islam. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk
berbuat baik terhadap segala sesuatu” (Hadits Riwayat Muslim).

Definisi ramah atau ihsan dalam
Al Quran berarti melindungi dan menjaga dengan sempurna. Definisi semacam ini
dapat kita temukan akarnya dalam hadits Jibril yang terkenal. Adapun
definisi ihsan yang kedua berati memperhatikan, menyayangi, merawat, serta
menghormati (QS An Nisa:36). Kedua definisi ini, pada kenyatannya diperlukan
dalam konteks interaksi manusia dengan lingkungan (Qaradhawi, 2002:184).

Tentu saja, ada keselarasan antara
ajaran Islam dengan konsep ekologi yang dimiliki orang Sunda. Namun, sekali
lagi bukan saja pada tataran konsep yang bagus sebuah program bisa berjalan
baik. Akan tetapi inti permasalahannya adalah pada tataran aplikasinya.

Jika orang Sunda dengan konsep
ekologi yang telah dicontohkan oleh dua komunitas masyarakat yakni Kampung Naga
dan Masyarakat Baduy memiliki konsep yang memang friendly dengan alam.
Seyogyanya konsep tersebut bisa kita manifestasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bukti otentik yang sudah kita lihat, adalah ketika dua komunitas adat itu mampu
mempertahankan lingkungannya dengan baik tanpa kerusakan apapun.

Jika berbagai kerusakan yang menimpa
Jawa Barat adalah bentuk kesalahan melaksanakan fungsi hubungan sakral antara
manusia dan alam. Maka, akan menjadi sebuah keberkahan bila masyarakat Jawa
Barat melaksanakan dengan baik konsep yang memang telah dipupuk dari dahulu
oleh orang Sunda.

Yang mencadi catatan penting adalah,
jika banjir dan longsor merupakan bentuk kesalahan manusia dengan banyak
merusak hutan. Maka langkah antisipasi yang terbaik yakni dengan menjaga hutan
dari pengrusakan tangan-tangan jahil tak bertanggungjawab. Sistem penanaman
hutan yang gundul, maupun perbaikan pengawasan lingkungan oleh pemerintah
menjadi hal yang mutlak demi perbaikan di masa datang.

Memang mengubah pola hidup
masyarakat yang telah mendarah daging tidaklah gampang. Namun, seperti
peribahasa cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok yang diartikan
yakni jika dengan sebuah keuletan, sesulit apapun masalah pasti bisa dilakukan
(Hidayat, 2005:208), maka tak ada
salahnya untuk mencoba dengan sebuah kesabaran dan keuletan.

 

Khatimah

 Ketika bencana datang silih
beganti, akankah manusia hanya berpangku tangan? Jika demikian adanya, pastilah
kehancuran tinggal menunggu waktu. Akan tetapi sejatinya manusia harus berupaya
demi menyelamatkan kelangsungan nasib masa depan anak cucunya kelak.

Salah satu bentuk yang menjadi
rujukan adalah kembali mengaplikasikan konsep ekologi Sunda yang memang ramah
lingkungan. Tak sembarangan, konsep ini berakar kuat dari konsep ajaran Islam
yang diakui kebenarannya. Jangan takut untuk berbuat baik. Mulailah dari diri
sendiri ketika hal baik sekecil apapun akan menyelamatkan hajat hidup orang
banyak. Semoga Jawa Barat yang ramah lingkungan akan terwujud dengan bantuan
masyarakatnya yang memiliki kesadaran lingkungan yang baik.

Wallahu’alam

DAFTAR
PUSTAKA

Al Quran dan
terjemahnya

Anwar Sanusi, 2007, “Pohon Rindang” Upaya
Menggapai Hidup Sejati,
Jakarta, Gema Insani.

Her Suganda, 2006, Kampung Naga Mempertahankan
Tradisi,
Bandung, Kiblat.

Nursid Sumaatmadja, 2003, Manusia Dalam Konteks
Sosial, Budaya dan Lingkungan Hidup,
Bandung, Alfabeta.

Rachmat Taufiq Hidayat, dkk, 2005, Peperenian
Urang Sunda,
Bandung, Kiblat.

Tim Sundalana, 2007, Menyelamatkan Alam Sunda dan
Kajian lainnya mengenai Kebudayaan Sunda,
Bandung, Pusat Studi Sunda.

Yusuf al-Qaradhawi, 2002, Islam Agama Ramah
Lingkungan,
Jakarta, Pustaka Al-Kautsar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

M2KQ

May 11th, 2008 by usie-yulia

JANGAN
HAKIMI SAMPAH!

Sebuah
Rekonstruksi Konsep Ekologi Jawa Barat

 

Oleh:

Susi
Juliani

 

Iftitah

 “Raport” Jawa Barat kini
tercoreng ‘merah’ akibat problematika sampah. Dalam tiga tahun terakhir, masyarakat begitu akrab dengan “sampah”.
Dua tragedi longsoran sampah telah “menampar” wajah Jawa Barat di mata dunia. Peristiwa
di Leuwi Gajah, disusul kemudian peristwa serupa terjadi di Bantar Gebang
menjadi potret kelam akibat buruknya pengelolaan sampah.

Setelah kejadian itu, ide pengolahan sampah pun terus
dikembangkan. Termasuk yang sedang santer diperbincangkan adalah proyek PLTSa.
Proyek ini direncanakan untuk mengolah sampah yang menumpuk di Ibu Kota Jawa
Barat ini menjadi sistem pembangkit listrik. Pro dan kontra bermunculan sejak
usul ini dilayangkan April tahun 2007 lalu. Bahkan, Walikota Bandung sendiri
keukeuh
ingin sistem ini cepat jadi. Namun, studi tentang kelayakan
pembangunannya saja tidak bias terburu-buru. Sebab, bias-bisa terjadi tragedi part-2,
jika tidak benar-benar dimatangkan.

Sistem PLTSa bukanlah sistem yang pertama dijalankan.
Sebut saja misalnya di Amerika, Belanda, bahkan Singapura pun memakai sistem
serupa. Bandung ceritanya ingin sukses menjalankan sistem ini. Namun, menyerap
mentah-mentah sebuah sistem tentu bukan penyelesaian. Bahkan, penyelesaian masalah jangan lantas
menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Yang harus menjadi bahan
pertimbangan adalah masalah topografi, iklim, ketersediaan lahan, bahkan yang
lebih penting yakni lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk.

But, any way semua persoalan ini bermuara karena
sampah. Banyak orang pada akhirnya menyalahkan sampah atas pelbagai bencana
yang menimpa. Tak heran, sampah pada akhirnya dijadikan kambing hitam (black
sheep
) demi kepentingan manusia. Entahlah, yang jelas sampah yang terkumpul
dari hari ke hari volumenya kian overloaded saja. Padahal, jika kita
introspeksi diri, apalah artinya seonggok sampah. Ia hanya benda mati yang
itupun dihasilkan dari tangan manusia yang kemudian dibuang tanpa beraturan.
Lalu, siapa pula yang membuat sampah menjadi ada? Manusia sendiri bukan?

Benar apa yang dikatakan Startre (Hunnex, 2004:137) bahwa
kita hanya dapat menemukan “diri” kita sebagaimana kita “dicerminkan” dalam
perbuatan dan pengalaman kita. Manusia tetaplah manusia. Walaupun ia diciptakan
sebagai khalifah di muka bumi (QS.Al-Baqoroh;30), namun ia tetap saja berbuat
kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatannya sendiri (QS Ar Rum;41). Dan
parahnya, setelah sekian bencana terjadi, ia lalu mencari kesalahan-kesalahan
kepada pihak lain.

Nah, pertanyaannya kemudian, bisakah
Jawa Barat terbebas dari overloaded-nya sampah yang ‘memusingkan’ semua
kalangan? Apakah kemudian perenungan mendasar yang perlu kita cermati mulai
dari sekarang? Sebab jika tidak, dikhawatirkan seperti apa yang dijanjikan
Allah: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepada-nya dengan rasa takut (tidak akan diterima)
dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada
orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al A’raf:56). Sebelum adzab itu datang
dengan lebih dahsyat, mari kita mulai untuk memetakan terlebih dahulu potensi
terbesar yang dimiliki manusia dengan akalnya.

 

Manusia dan Kesalahan
Konsep Hidup, Sebuah Rekonstruksi Pemikiran

 Jika dikatakan bahwa syetan adalah musuh utama
manusia, maka syetan yang tak berwujud itu menjelma menjadi kesenangan,
kemewahan, barang-barang bagus sebagai jelmaan yang paling jitu untuk menggoda hasrat
manusia. Dan parahnya, manusia tergoda dan terjebak pada rutinitas kesalahan
yang membuatnya terhina.

Perlu menjadi catatan, manusia seharusnya melaksanakan
fungsi kekhalifahannya dengan ibadah (QS. Az Zariyat:56). Ibadah ini meliputi segala
sesuatu yang disenangi Allah dan diridahi-Nya, baik berupa perkataan maupun
perbuatan. Maka dalam konteks ini, sebenarnya bentuk ibadah itu mencakup semua
aspek kehidupan. Tujuan kedua, manusia diciptakan untuk membangun peradaban di
muka bumi, dalam salah satu firman-Nya, Allah menyebutkan: "Dia telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya" (QS
Hud:61). Tafsiran kata, "menjadi pemakmurnya" mengandung pesan kepada
manusia untuk membangunnya (Qaradhawi, 2002:25).

Sebagai makhluk yang terikat oleh
kesatuan utuh dengan alam lingkungan yang dilengkapi oleh kemampuan budaya
dalam menggali, mengolah, memanfaakan alam sebagai sumber daya, tidak hanya
dituntut tanggung jawab teknis dan IPTEK semata. Namun juga dituntut tanggung
jawab moral untuk menjaga kelestariannya. Keutuhan manusia itu bukan hanya pada
sosok moral dan tanggung jawab sebagai khalifah d muka bumi (QS Al Baqoroh:30).
Atau malah justru sebaliknya, sebagai makhluk hidup yang keberadaannya termuda
dibanding makhluk lain. Malah menjadi faktor pemicu kerusakan alam dengan
sumber dayanya. Disinilah, letak kewajiban yang terpadu antara pendidikan
intelektual, pendidikan keterampilan, dan tentu saja pendidikan agama, nilai,
dan etika.

Untuk mengamati tanda-tanda
kekuasaan-Nya, mempelajari ayat-ayat-Nya, dan mengenalkan apa yang harus
dilakukan dan ditinggalkan, perlu proses belajar. Cara belajar yang tepat akan
membuat seseorang benar dan cepat memperoleh sebuah kebenaran ilmu. Tak cuma
itu, seseorang yang belajar harus juga memiliki hati yang tulus. Seperti
ungkapan Anwar Sanusi (2007:xi) yang diilhami dari kish Ali Ramitani tentang
perbandingan murid yang baik dan yang lebih baik. “Seorang murid yang baik
bertanya,’Ajari aku bagaimana cara belajar dan apa yang harus kupelajari.’
Murid yang lebih bijaksana lagi berdoa,’Izinkan aku setulusnya berharap bisa
mempelajari bagaimana cara belajar”.

Usaha membangun bumi ini akan sempurna lewat cara
menanam, membangun, memperbaiki, dan menghidupi, serta menghindarkan diri dari
hal-hal yang merusak. Nantinya, tujuan tersebut akan saling melengkapi dan
menyempurnakan. Sebab, membangun bumi termasuk ke dalam konteks pengaplikasiaan
tujuan kekhalifahan.

Tapi tunggu dulu, sudahkah manusia menjalanakan tugas
kekhalifahannya dengan benar? Jika kita menelisik, perkembangan manusia menurut
sejarah (Sumaatmadja, 2003:52), maka masyarakat dimulai dari masyarakat ekonomi
peramu sederhana (simple food ghatering economics), ke masyarakat
ekonomi peramu maju (advance food ghatering economics), berikutnya
masyarakat ekonomi pertanian sederhana (simple agriculture economics),
selanjutnya menuju masyarakat ekonomi lebih maju (anvance aglicurture
economics
), dan pada akhirnya menuju pada masyarakat industri (industrial
economics
). Perkembangan tahap-tahap ekonomi tadi, bukan semata-mata karena
perumbuhan demografis penduduk, melainkan terkait dengan upaya manusianya
memanfaatkan akal manusia dalam memenuhi kebutuhan dan tantangan lingkungan
alamiahnya.

Celakanya, dalam tahap ekonomi indurti yang kian maju, manusia
semakin lepas kendali. Dengan bantuan teknologi komunikasi, manusia
“terninabobokan” gemerlap produk industri tersebut, hingga melupakan kewajiban
hakikinya. Dengan terus mengejar kesenangan yang diibaratkan Sharma (2002:24)
sebagai komponen alamiah bagi usaha keras manusia memenuhi pemenuhan kebutuhan
biologisnya. Manusia lupa diri untuk sesegera mungkin ‘mengerem’ sifat-sifat
yang tidak bermanfaat. Bahkan lanjut Sharma, kapanpun manusia mempunyai sesuatu
kehendak, ia harus mendorong dirinya dan demi kepuasnnya, menjabarkan suatu
"kenikmatan" sebagai sensasi yang menyenangkan.

Rupanya pola pemikiran seperti tadi bukan hanya menimpa
satu dua orang, namun suidah membudaya. sebab, jika mengarah pada orientasi
teori grup pikiran dan psikoanalitik yang domitori Durkheim dan Marx (Hunnex,
2004:136). Mereka percaya bahwa selama manusia sebagai makhluk sosial, maka
pikiran individual mencerminkan keyakinan dan ekspektasi dari grup atau kelas
yang merupakan bagian dari dirinya.

Bayangkan, jika seorang saja yang biasanya hidup
sederhana, kemudian ia terjebak kepada gaya hidup konsumtif, maka bisa
dibayangkan volume sampah berapa banyakkah yang bisa disumbangkan tiap orang.
Apalagi jika kita menelisik hasil catatan BPS tahun 2007 yang mengatakan bahwa
sumbangan volume sampah yang dihasilkan tiap orang tiap harinya di seluruh kota
di Insonesia yakni antara 2 hingga 2,5 liter. Lalu, akankah sumbangan sampah
itu ditambah, jika masyarakatnya terus hidup konsumtif? Haruskah kita terus
menerus menyalahkan sampah? Nah, alangkah lebih baik jika kita memulai untuk
mengintrospeksi diri sendiri lewat sebuah renungan panjang yang harus kita
mulai dari sekarang.

 

Tafakur Membuat Manusia
Luhur

“Bertafakur satu detik, lebih baik
daripada satu tahun,” (al Hadits).

 

Hadits
ini tentu saja memotifasi diri kita untuk senantiasa mengoptimalkan akal yang
diberikan Sang Khalik untuk berpikir. Lalu, berpikir seperti apa yang memang
dianjurkan? Tentu saja berpikir tentang hasil ciptaan Tuhan dan terus belajar
untuk ‘mengeja’ Kuasa Tuhan di muka bumi (QS Al Alaq:1-5).

Bahkan,
menurut Anwar Sanusi (2007:1), berpikir adalah salah satu etos yang kuat dalam
agama Islam. Berpikir yakni menggunakan daya nalar untuk berpikir tentang jagat
raya sebagai ‘ayat kauniyah’ dan agama sebagai ‘ayat kauliyah’. Ayat-ayat yang
mendorong untuk mengeksplorasi daya nalar untuk berpikir begitu banyak.
Misalnya, dengan kata yang menggugah sekaligus memberi isyarat pentingnya
melakukan tafakur, yakni afalaa tatafakaruun, afalaa ta’qiluun, afalaa
tubshiruu,
yang terdapat dalam Al Quran.

Nah,
jika memang berpikir adalah etos yang terpenting, maka bila dikaitkan dengan
prilaku manusia yang kian hari kian terjurus oleh godaan syetan-syetan modern
hingga membuatnya menjadi terhina. Seyogyanya tafakur menjadi metode agar
membuat manusia menjadi luhur kembali derajatnya. Derajat yang memang secara
fitrah diberikan Allah kepada manusia yang membedakannya dengan makhluk lain, “….Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang
telah Kami ciptakan” (QS. Al Isra:70).

Perlu
kita pahami pula dalam hubungan manusia dengan alam, bahwa kesalingbergantungan
(interdependensi) antara manusia dan alam menciptakan hubungan yang
sinergis. Namun, dalam hal ini alam bukanlah faktor mutlak penentu
keberlangsungan hidup manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk mengolah
peluang dari kekayaan yang disediakan alam. Asumsi ini sesuai dengan paham
posibilisme yang dikatakan E.C Sample (Sumaatmadja, 2003:73), ia meyakini bahwa
kondisi alam tidak menjadi faktor yang menentukan, melainkan menjadi faktor
pengontrol, memberi kemungkinan atau setidak-tidaknya peluang yang
mempengaruhi kegiatan serta kebudayaan
manusia.

Pada
paham posibilisme atau probabilisme ini lanjut para tokohnya (2003:74),
kedudukan manusia dan hewan ditempatkan sebagai makhluk yang berbeda, terutama
dengan tumbuh-tumbuhan yang terikat oleh tempat serta sepenuhnya tunduk pada
kondisi alam setempat. Manusia telah dipandang sebagai makhluk yang mampu
memanfaatkan alam sesuai dengan kemungkinan yang dapat dilakukan dan
ditempuhnya. Alam lingkungan sebagai factor yang berpengaruh terhadap kehidupan
manusia, tidak lagi dipandang sebagai factor yang menentukan. Manusia dengan
kemampuan budayanya dapat memilih kegiatan yang cocok sesuai dengan kemampuan
dan peluang tyang diberikan oleh alam lingkungannya. Manusia telah dipandang
aktif sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Pada
perkembangan dan kemajuan IPTEK seperti saat ini, ‘seolah-olah’ penerapan serta
pemanfaatan itu memberikan ‘kemunginan’ terhadap kemampuan manusia memanfaatkan
alam lingkungannya. Dari posibilisme optimis teknologi tadi, dapat mengarah
pada determinisme teknologi yang sangat berbahaya. Dengan pandangan seperti
ini, manusia dengan teknologinya, mengabaikan hukum alam (sunatullah)
yang mengatur keseimbangan ekosistem. Bagaimanapun juga, manusia dengan teknologi
tidak dapat menguasai alam dan bukan penguasa alam. Menusia hanyalah bagian dari
alam yang ‘kebetulan’ memiliki kemampuan budaya dalam mengolah dan memanfaatkan
sumber daya alam. Namun demikian, untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan
serta kelestarian alam lingkungan, manusia wajib memperhatikan asas dan hukum
alam yang menjadi kaidah alamiah. Memang, pada konsep geografi dan ekologi
dikenal ‘man ecologycal concept’ yang berarti manusia menjadi faktor
dominan terhadap lingkungan. Namun hal itu tidak berarti bahwa manusia menjadi
penguasa alam, melainkan ia masih tetap menjadi bagian dari alam yang tunduk
pada asas dan hukum alam (Sumaatmadja, 2003:74-75).

Namun
dalam tahap ini, manusia sering lupa kendali. Dengan sifat arogannya, kadang
kala manusia merasa alam adalah taklukannya, sehingga sering melupakan
keseimbangan alam apalagi pelestariannya. Rupanya kesalahan berpikir seperti
inilah yang menentukan nasib manusia di masa datang.

 

Realisasi
Kampanye ‘7 R’, Sebuah Solusi Mendesak

Untuk menanggulangi masalah sampah
ini, berbagai kalangan berupaya keras mencari sebuah solusi yang terbaik. Dari
mulai stakeholder hingga masyarakat biasa ingin memberi sebuah solusi
yang bisa menyelesaikan problem semua orang ini. Padahal, inti permasalahan
sangat sederhana, yakni bagaimana persoalan sampah ini bisa diselesaikan tanpa
menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks.

Meminjam peribahasa Sunda yakni caina herang laukna beunang, yang
diartikan semua masalah selesai tanpa ada permasalahan baru (Hidayat, dkk,
2005:207), begitulah seharusnya solusi yang menjadi pilihan. Apalagi seperti apa
yang diungkapan murid Ali Ramatani di atas. Tulisan ini ingin mencoba layaknya
seorang murid yang terbaik dari yang baik (best of the best). Dengan
niat setulus hati berharap bisa mempelajari bagaimana cara belajar untuk
mencari sebuah solusi tanpa embel-embel apapun. Terus belajar untuk ‘mengeja’
tanda-tanda Kuasa Tuhan di muka bumi.

Diilhami satu spirit yang dianjurkan
Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH tentang anjuran zero waste yakni
meminimalkan pemborosan hingga ke titik terendah dalam upaya pengelolaan
sampah. Maka setidaknya anjuran tersebut harus didesak untuk segera
direalisasikan. Terlebih, PLH juga mengkampanyekan program ‘7 R’, yakni reduse,
reuse, recovery, replace, relocation, and responsible
(Pikiran Rakyat, 10
Februari 2007).

Perlu menjadi catatan, kecepatan pembakaran bukanlah jaminan atas solusi
masalah sampah. Ada aspek lain, seperti ekonomi, sosial, dan ekologi, yang
konjugasinya disebut sosioekologi (sosiobudaya, ekonomi, dan ekologi atau
ekonologi).

Berbeda dengan negara di Eropa, Amerika, Jepang, China, dan Singapura
yang tinggi taraf kesehatannya. Sebagai negara agraris dan agamis, masalah
sampah bisa didekati dari sosiobudaya. Dengan memasukkan rohaniwan, tetua adat,
atau tokoh masyarakat, pembiasaan reduksi sampah bisa dilakukan. Apalagi, kalau
dibantu penyuluhan oleh instansi pemerintah. Ini serupa dengan evolusi
keberterimaan program keluarga berencana (KB) oleh masyarakat.

Pendekatan sosiobudaya sulit ditempuh di negara yang kuat
individualismenya sebab massa sulit dilibatkan untuk implementasi 7R (reduce,
reuse, recycle, replace, recovery, relocation, dan responsible
). Wajarlah
insinerasi yang dipilih. Di Indonesia berbeda. Orang Indonesia berguyub.
Paguyuban menjadi keseharian dalam bertetangga. Lewat sosiobudaya inilah sampah
dikelola, diolah di RT/RW, melibatkan Karang Taruna, PKK, ormas, partai
politik, pelajar SD sampai dengan universitas. Gerakan ini tak perlu teknologi
mahal dan riskan serta nihil dari petaka ekologi (ecological disaster).

Itu sebabnya, yang dinilai bukanlah aspek kecepatan, melainkan efek
terhadap manusia dan lingkungan. Ini yang dikhawatirkan. Manusia harus sehat,
lingkungan harus dikonservasi. Berhati-hati (precautionary principle)
dan mencegah lebih baik daripada mengobati atau rehabilitasi pascabencana.
Memadaikah paramedis, dokter, dan fasilitas kesehatan di rumah sakit? Adakah
prosedur operasi standar atas bencana PLTSa? Bagaimana tindakan step by step
yang dikaitkan dengan sosiobudaya orang Bandung?

Karena itu, pola yang bersahabat dengan lingkungan lebih tepat. Konsep “7R”
layak digunakan karena kita punya struktur formal-informal pemerintahan yang
bagus. Ada tanggung jawab bersama antara pejabat dan rakyat. Solutif, murah,
dan tahan lama tanpa batas waktu. Semua dilaksanakan dengan penyuluhan dan
melibatkan pejabat dan perangkatnya, anggota DPRD, fungsionaris dan kader partai,
ormas beserta keluarganya.

Betul bahwa PLTS menghasilkan listrik. Namun, listrik itu dijual ke
warga, padahal bahan bakarnya dari warga. Ini berbeda dengan sanitary landfill,
composting, dan 7R yang keuntungannya justru untuk warga. Yang terlibat tak hanya
20 warga atau 200 warga, tetapi ratusan ribu warga. Warga se-Bandung bisa
melibatkan diri dalam mengelola sampah sekaligus melestarikan fungsi
lingkungan. Sampah dari rakyat, dikelola rakyat (plus pemerintah), dan untuk
rakyat (juga untuk pemerintah yang diringankan pekerjaannya dan hemat APBD).

Bagaimana mekanismenya? Pemerintah lewat dinas-dinasnya dapat memulai
pembuatan pabrik pengelola dan pengolah sampah. Selain membuat pabrik,
pemerintah hendaklah membantu distribusi produk sekaligus menurunkan
penganggur. Sektor hulu-hilir sampah ini dapat melibatkan ratusan ribu orang.
Pemerintah tinggal mengatur tata niaganya. Misalnya, dalam proyek konstruksi
(sipil) dan permesinan, benda olahan sampah dengan konsep reuse, recycle,
recovery
itu dapat digunakan.

Yang tak kalah penting, aspek ekologi. Intinya, sanitary landfill
yang sudah penuh bisa ditanami pohon menjadi hutan, penyumbang oksigen, dan
kenyamanan, selain juga bisa dijadikan daerah tujuan wisata berwajah ekowisata,
serta bisa dijadikan permukiman setelah tuntas biodegradasinya.

Penanganan sampah yang solutif ialah berbasis
masyarakat karena sampah bersumber dari masyarakat. Upaya ini butuh waktu.
Pelajar pun perlu 12 tahun agar bisa menjadi mahasiswa. Mengubah karakter tak
semudah membuang sampah, sebab perlu ilmu, konsistensi kebijakan, dan
pembiasaan. Ini harus dimulai dari pejabat publik agar praktik memilah-milah
sampah kemudian diikuti masyarakat.

Sebuah catatan penting, yang harus
juga diperhatikan pemerintah adalah lokasi tempat pembuangan sampah yang jauh
dari pemukiman warga. Malah proyek sebesar PLTSa pun yang banyak ditolak warga bukan
semata-mata masalah dampak lingkungannya saja. Akan tetapi dampak yang memang
langsung dirasakan warga sekitar karena lokasi yang berdekatan dengan warga.
Semestinya, pemerintah responsif dengan penolakan warga. Seandainya lokasi
PLTSa dipindahkan ke tempat yang jauh dari pemukiman warga, barangkali
kenyatannya tak seperti ini.

Terakhir adalah responsible
yang harus dimiliki oleh semua elemen masyarakat tanpa terkecuali. Rasa
tanggung jawab ini akan melahirkan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Bila
seluruh elemen masyarakat sudah menggunakan akalnya dengan maksimal, bertanya
pada hati nuraninya, maka kesadaran pun dengan sendirinya akan timbul. Sebuah
kesadaran yang akan mencegahnya dari perbuatan ‘menyakiti’ alam. Perlu kita
ingat, bahwa manusia dan alam adalah dua entitas yang saling bergantung satu
sama lain. Keduanya memiliki hubungan ketergantungan yang saling bersinergis.

 

Khatimah

 Sebagus apapun sebuah program
yang direncanakan untuk menanggulangi masalah sampah, tak akan ada artinya
tanpa dukungan semua elemen masyarakat. Bukan hanya pemerintah, atau bukan pula
hanya pemerhati lingkungan, bahkan bukan juga hanya masyarakat biasa saja. Namun
semua elemen masyarakat berupaya untuk bersama-sama mengemban tugas berat ini.

Tapi tunggu dulu, dukungan saja
belum cukup tanpa adanya realisasi dari dukungan tersebut. Mulailah renungkan.
Manusia dan alam harus saling bersinergi. Keduanya saling membutuhkan dan
saling bergantung. Jika tidak kita mulai dari saat ini untuk mengkampanyekan
perubahan pola hidup kita ke arah yang lebih baik, kapan lagi? Barangkali
kontrak waktu yang diberikan Tuhan pada kita tidak akan cukup jika niat baik
ini tidak sesegera mungkin diamalkan. Saatnya kita belajar ‘mengeja’
bukti-bukti Kuasa Tuhan di bumi. Atau justru kita kembali terjebak kepada
bencana part-2 yang lebih dahsyat. Bencana yang ‘menampar keras’ wajah
Jawa Barat di mata dunia.

Wallahu’alam

 

 

DAFTAR
PUSTAKA
 

Al Quran dan
terjemahnya

Anwar Sanusi, 2007, “Pohon Rindang” Upaya
Menggapai Hidup Sejati,
Jakarta, Gema Insani.

Milton D Hunnex, 2004, Peta Filsafat Pendekatan
Kronologis dan Tematis,
Bandung, Mizan Media Utama.

Mujiyono Abdillah, 2001, Agama Ramah Lingkungan
Perspektif Al Quran
, Jakarta, Paramadina.

Nursid Sumaatmadja, 2003, Manusia Dalam Konteks
Sosial, Budaya dan Lingkungan Hidup,
Bandung, Alfabeta.

Pemprov Jawa Barat, 2004, Desain dan Silabus
Dakwah; Konteks dan Model Dakwah di Jawa Barat,
Bandung, Pemprov Jawa
Barat.

Rachmat Taufiq Hidayat, dkk, 2005, Peperenian
Urang Sunda,
Bandung, Kiblat.

S. P Sharma, 2002, Succes Trough Positive Thinking,
Bandung, Alfabeta.

Yusuf al-Qaradhawi, 2002, Islam Agama Ramah
Lingkungan,
Jakarta, Pustaka Al-Kautsar.

 

Website

www.pikiran rakyat.co.id
edisi 10 Februari 2007.

 

 

 

 

 

May 11th, 2008 by usie-yulia

Menembus Nasionalisme Muhammad

Oleh Susi Juliani

 

 

 Jangan-jangan,
proses kebiadaban peradaban manusia yang sering diperguncingkan orang-orang itu
ada padaku, dalam sistem kerja otaku, dalam dimensi waktu pengabdian profesiku,
dalam relung-relung hatiku hingga menembus tirai tipis sumsum tulang tubuh
mungilku.

 Aku
terdiam. Apa mungkin para malaikat suci mau membantu orang-orang yang terjebak
sepertiku?

 Kadang
aku belimpungan. Mau apa jadinya aku ini? Apa seperti banyaknya manusia yang
selalu gampang menyalahkan orang lain? Itu salahnya Koruptor, itu salahnya
negarawan, itu bobroknya sistem, nyelenehnya sumpah serapah terhadap Bapak
Pembangunan yang telah Almarhum.

 Ada
juga yang bertanya. Negara kita sudah pernah krisis moneter, krisis BBM, krisis
pangan, lalu sejak kapan kita terjebak dalam krisis kepercayaan diri? Sebuah
lagu rindu dalam nyanyian bingkai kebangkitan nasional yang digaungkan semua insan.
Sayangnya, justru manusia Indonesia mengalami fase krisis kepercayaan diri itu?
Kasian!

 Aku
teringat Muhammad. Muhammad yang dikatakan Emha Ainun Najib bukan nabi tiban,
nabi karbitan, bahkan nabi dadakan. Semua pengetahuan tentang nilai alternatif
yang ia dapat tidak datang ‘gratisan’ dari Tuhan, melainkan ‘dibeli’ olehnya
dengan proses laku yang amat panjang, sakit dan melelahkan. Muhammad yang
manusia untuk menuju Muhammad yang Nabi, ia tempuh dengan cara yang sama persis
seperti manusia siapa saja.

 Ia
juga berjuang untuk jujur, berjuang untuk tekun, berjuang untuk kerja keras,
berjuang untuk melibatkan diri dalam masalah sosial, berjuang untuk
kontemplatif, berjuang untuk senantiasa bertanya dan mempertanyakan, berjuang
untuk mengenbangkan wawasannya.

 Aku
semakin bingung. Mana mungkin perjuangan berat Muhammad tidak “menyihir” rakyat
Indonesia yang sedang melarat. Bukankah, Indonesia menggaungkan diri sebagai negara
dengan jumlah pengikut Muhammad yang terbanyak?

 Membingungkan
memang. Orang-orang yang terlibat dalam perjanjian sakral yang meng-azzam-kan Muhammad sebagai nabi pilihan
ternyata hanya bualan. Banyak diantara mereka hanya menyimpan Muhammad dalam
bingkai kulit Kerbau yang hanya dipajang. Muhammad hanya sebuah fase dimana
mereka diceritakan tentang setting
masa kebodohan. Hikayat Sang Pejuang yang mengendap dalam decak kagum tanpa
penghayatan.

 Ah
mungkin saja itu aku? Manusia limpung yang sedang mencari idaman. Sesosok
idaman yang mampu menembus ruh suci yang diberikan Tuhan padaku. Aku ingin
tertular ruh Muhammad hingga ia mendamprat etos kerjaku, menggenjot semangat
berjuangku. Bahkan, aku bermimpi, aku ingin menjadi Muhammad yang terlahir
kembali untuk memperbaiki negaraku.

 Ah
mimpi yang indah. Aku begitu mengagungkan Muhammad. Mengkristalkan ajarannya
dalam tiap inci aliran darahku. Bahkan, aku ingin terus mengulang mimpi-mimpi
indah itu. Mimpi yang membuai perjalanan tidurku hingga terasa begitu singkat.

 Aku
bahkan tak peduli jika orang mengganggapku begitu aneh memiliki obsesi yang
mengkarat. Aku hanya tersenyum teringat perkataan Si ‘Ikal’ Andrea, bahwa tanpa
mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati.

 

Dalam buaian Kamar Mungil

Sumedang, 11 Mei 2008

Jam 15.30 WIB