Islam Menyongsong Indonesia Baru
May 22nd, 2008 by usie-yuliaMENEMBUS NASIONALISME MUHAMMAD:
Melacak Islam Menyongsong
Indonesia Baru
Oleh Susi Juliani
Iftitah
Dalam
konsepsi Emha Ainun Nadjip (1995:13), Islam yang ‘daya saingnya’ selalu
realistis, yang relevan abadi dan yang maqam
ruang-waktunya senantiasa aktual, kini ditatap oleh para pemeluknya dengan rasa
malu, bersalah, dan rasa penasaran kepada diri sendiri. Umat Islamnya amat
sibuk berkaca, menatapi wajah di cermin, baik untuk sekedar bersolek maupun
untuk merenung.
Ada rasa asing kepada diri sendiri: sebuah
arus besar membawa mereka, berabad lamanya, entah ke mana. Maka alhamdulillah untuk rasa asing itu, kata
Sang Nabi Si Pembawa agama pamungkas, Islam melangkah dalam dan dengan
keasingan, kemudian di tengah perjalanannya ia akan berjumpa dengan keasingan
demi keasingan.
Terlepas dari itu semua, keasingan
dalam fleksibilitas mainstream semua
orang, jika kita ibaratkan demikian, menyergap manusia Indonesia saat ini. Hanya saja
keterasingan ini ‘membuncah’ tanpa kendali dalam arus hiperglobalisasi yang menimbulkan
kegelisahan. Bagaimana tidak. Manusia Indonesia seolah terpinggirkan
dalam arus besar yang mendorongnya untuk memiliki potensi luar biasa sebagai
modal utama persaingan hidup di dunia.
Hanya sayangnya, jangankan
mempersiapkan diri bersaing dengan kompetitor-kompetitor negara lain yang
tangguh. Masyarakat Indonesia malah sibuk hiruk pikuk, mondar-mandir, clingak
clinguk, ngalor ngidul tak tentu tujuan hanya sekedar meraba-raba kira-kira
ingin menjadi siapa. Bahkan berebut untuk memposisikan diri menjadi masyarakat
yang dikatakan Guy Debord yang dikutip Yasraf Amir Piliang (2006:76) sebagai society of the spectacle: masyarakat
yang hampir segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan,
dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup.
Dunia mungkin memang menyedihkan
lanjut Radar Panca Dahana (2007:9). Mungkin lantaran itu, begitu oksigen
pertama dunia kita hidup, rasa ngeri, sesal, dan nestapa kontan menyerbu,
sehingga kita meneriakannya dalam tangisan. Tak cukup dengan itu, dari detik
pertama kita ada (bahkan sejak dalam janin), ternyata kita sudah “menyerah”:
mau tak mau menerima tawaran (atau paksaan) dunia. Sesuatu yang tampak given walau sebenarnya choisen (tawaran).
Dunia adalah tawaran yang dengan
begitu kerasnya mendesak kita sehingga kita tak lagi berpeluang menolaknya.
Betapapun itu mungkin dalam kealamiahannya. Maka begitulah kebudayaan dan
peradaban berjalan, meminta semua warga dan pengikutnya untuk serta, atau ia
akan menjadi alien di detik ia berani
menolaknya. Inilah bentuk penaklukan atau kolonialisme pertama yang paling
purba dalam sejarah manusia.
Bukan saja adat istiadat, tradisi,
atau konvensi, dengan segala pernik dan dimensinya memenjara dan menelikung
sekujur hidup kita, mulai ranjang bayi kita pertama hingga ranjang di lahat
nanti. Tapi juga aturan budaya modern, dalam kehidupan sosial, politik,
ekonomi, kemudian meminta kita untuk menjadi makhluk yang “tak lagi bisa
memilih”. Menjadi manusia kalah dan menyerah secara total. Menjadi korban.
Menjadi insan yang jinak dan dijinakan. Kasian.
Inilah sebenarnya inti permasalahan
itu. Terlalu sering kita hanya mengharapkan hasil yang optimal tanpa kerja
keras dan menyerah kepada nasib, lalau berkata: ini sudah takdir, ini sudah nasib, ya sudah bagaimana lagi tak bisa
dirubah. Padahal kalimat ini ‘meluncur’ halus dari manusia yang tak pernah
berusaha dan bekerja keras selama masa hidupnya. Tak pernah sama sekali.
Manusia yang hidup tanpa perjuangan lalu dengan gampangnya ‘menuding” Tuhanlah
yang memiliki andil atas semua kelalaiannya itu.
Barangkali benar apa yang dikatakan
Emha (1995:7), bahwa kita semua harus bercermin kepada Muhammad. Sebab ia bukan nabi tiban, nabi karbitan, bahkan nabi
dadakan. Semua pengetahuan tentang nilai alternatif yang ia dapat tidak datang
‘gratisan’ dari Tuhan, melainkan ‘dibeli’ olehnya dengan proses laku yang amat
panjang, sakit dan melelahkan. Muhammad yang manusia untuk menuju Muhammad yang
nabi, ia tempuh dengan cara yang sama persis seperti manusia siapa saja.
Ia berjuang untuk jujur, berjuang
untuk tekun, berjuang untuk kontemplatif, berjuang untuk melibatkan diri dalam
masalah sosial, berjuang untuk senantiasa bertanya dan mempertanyakan, berjuang
untuk mengembangkan wawasan tentang persoalan masyarakat di sekitarnya.
Lalu, akankah masyarakat Indonesia yang menggaungkan diri sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia ini
menjadikan Muhammad sebagai panutan dalam gerak langkah perjuangannya? Atau
hanya menyimpan Muhammad dalam bingkai kulit Kerbau yang hanya dipajang? Muhammad
hanya dijadikan sebuah fase dimana mereka diceritakan tentang setting masa kebodohan. Hikayat Sang
Pejuang yang mengendap dalam decak kagum tanpa penghayatan.
Humanisme Muhammad
Dalam benak Karen Armstrong yang
ditulis dalam bukunya “Sejarah Muhammad” (2004:150), Muhammad adalah sosok
seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632 M, dia
telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru
atau ummah. Dia telah mempersembahkan
kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas yang secara unik sesuai dengan
tradisi mereka dan yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar,
sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri
yang luas membentang dari Himalaya hingga Perenia, dan membangun sebuah
peradaban yang unik.
Namun, ketika Muhammad duduk berdo’a
di gua kecil bernama Hiro selama masa ibadahnya pada bulan Ramadhan tahun 610
M, dia tidak membayangkan kesuksesan fenomena seperti itu. Sebagaimana
kebanyakan orang Arab, Muhammad percaya bahwa Allah, Tuhan Tertinggi yang
namanya secara sederhana berati “Tuhan”. Dia juga percaya bahwa hanya seorang
nabi dari Tuhan yang akan mampu memecahkan masalah masyarakatnya, tetapi tak
sedikitpun terbetik dalam pikirannya bahwa dirinyalah yang akan menjadi utusan
Tuhan itu.
Amat penting memperhatikan Muhammad
sebagai manusia biasa. Hingga usianya genap 40 tahun, wawasannya masih kurang,
sehingga Tuhan bilang: ‘Iqro,
bacalah. Lalu apa yang dibaca saat itu? Al Quran? Quran pun belum ada, baru beberapa
ayat pertama. Jadi, yang dimaksud bacalah adalah membaca problem disekitarmu.
Muhammad pun membaca. Hasilnya, bukan ini Arab itu non Arab, melainkan itu
Jahiliyyah ini Islam, itu kebodohan, ini
Ilmu (Emha Ainun Nadjip, 1995:7).
Semua pengetahuan tentang nilai alternatif
itu tidak datang ‘gratisan’ dari Tuhan, melainkan ‘dibeli’ olehnya dengan laku
panjang, sakit dan melelahkan. Muhammad selalu merenung bertahun-tahun,
sendirian di tengah jaman edan yang bisa saja menikamkan pedang kapan saja ke
pertunya. Ia sendirian kontemplasi di Gua Hiro. Muhammad bersujud beratus kali
lebih lama dari manusia lain, berpuasa lebih lapar, belajar tanpa buku,
otodidak teladan. Itu semua tidak untuk cita-cita ke-Araban, melainkan
kemanusiaan dalam ke-Ilahian.
Simbol-simbol humanis yang
ditampilkan Muhammad sebagai manusia biasa, sama sekali tidak berbeda dengan
manusia lain. Ia sama dengan para tetangganya yang miskin, seorang pekerja
keras sekaligus pemikir dan perenung. Proses yang dijalani dari Muhammad yang
manusia menuju Muhammad yang nabi dijalaninya dengan bekal kerja keras, sabar,
dan tawakal. Ia menjadi contoh keteladanan bagi seluruh manusia (QS. Al
Ahzab:21).
Bahkan, dalam opini Muhammad Husain
Haikal (1992:78), bahwa Tuhan telah mendidik Muhammad dengan sangat baik.
Dengan sepenuh kalbu ia menghadapkan diri ke jalan lurus, kepada kebenaran yang
abadi. Ia telah menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh jiwanya agar
dapat memberi hidayah dan bimbingan kepada masyarakat yang sedang hanyut dalam
lembah kesesatan. Ia mencari kebenaran itu dengan persiapan jiwa, kalbu, dan
pikiran yang sudah begitu tinggi, membumbung melampaui jangkauan yang akan
dapat dibayangkan manusia.
Potret Buram Kaum Muslimin
Indonesia
Kini
dunia Islam praktis merupakan kawasan bumi yang paling terbelakang diantara
penganut agama-agama besar lain. Negara-negara Islam jauh tertinggal oleh Eropa
Utara, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru yang Protestan; oleh Eropa
Selatan dan Amerika Selatan yang Katolik Roma; oleh Eropa Timur yang Katolik
Ortodoks; oleh “Israel” yang Yahudi; oleh Cina (“giant dragon”), Korea Selatan,
Taiwan, Hongkong dan Singapura (“little dragon”) yang Budhis-Konfusianis; oleh
Jepang yang Budhis Taois; dan oleh Thailand yang Budhis. Praktisnya, tidak satu
pun agama besar di muka bumi ini yang lebih rendah kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK)-nya daripada Islam (Nurcholish Madjid, 1997:21).
Lalu, bagaimana dengan Indonesia,
republik yang mengklaim diri sebagai negara dengan komunitas Muslim terbesar di
dunia. Rasanya sama saja. Keterpurukan Indonesia malah lebih parah. Ibarat
sebuah penyakit, maka keterpurukan yang diderita negara kita bisa dikatakan
sudah stadium empat, akut dan menyedihkan. Bahkan dalam berita Kompas tentang
pemenang Nobel perdamaian tahun 2006 (Dahana, 2007:87), ada sindiran yang
tertuju untuk bangsa kita. Tanpa perlu mengulang alasan yang diungkap, rasa
malu itu sesungguhnya tertuju pada cara berpikir kita yang childish yang tak pernah berhasil mengukur dengan tepat atau
penghargaan apa yang pantas kita dapat dari hasil kerja yang kita buat. Selalu
ingin hasil luar biasa dari usaha kurang dari luar biasa.
Kecenderungan masyarakat seperti
itu, didapat dari satu perkembangan karakter yang terlalu berorientasi pada
hasil puncak, tanpa memperdulikan cara, metode, atau modus kerja yang
didahuluinya. Tidak peduli pada waktu yang harus dijalani demi mendapatkan
sebuah kualitas. Dan ironisnya, orientasi hasil tersebut disilaukan atau
dipesona oleh kegelimangan-kegelimangan dunia industri, sistem kapitalis dan
kultur selebritis yang menyertainya.
Iming-iming penghargaan yang sangat
tinggi pada dunia olahraga, kehidupan, artis film, musik perdagangan dan
pelbagai bujuk kapitalisme lainnya, membuat kita terpana. Lalu menyangka dunia
bebas yang ditawarkan itu memberi kesempatan yang sama pada siapa saja untuk
meraihnya. Padahal dusta. Kita merasa dapat menjadi David Becham dengan gaji
Rp.2 miliar seminggu, menjadi Britney Spears dengan royalti 11 juta keping
albumnya, atau menjadi Agnes Monica yang konon berhonor Rp.100 juta per episode
sinetronnya (Dahana, 2007:89).
Publik semacam ini akan mengalami
kesulitan membayangkan, bahkan selembar kertas, sebuah peniti, apalagi chip sebesar lidi pun diproduksi
berlatar satu proses penemuan yang panjang. Dihasilkan dari keluh, keringat,
biaya, kerjasama ribuan ahli, juga kegagalan berkali-kali. Kita tidak peduli
itu semua. Kita merasa mampu meraihnya dalam sekejap. Hasil atau kejayaan
material itu telah membuat kita siap dan obsesif.
Kenyataan itulah antara lain membuat
kita, bahkan tidak mampu menghargai kerja keras, termasuk manusia di sebelah
kita sendiri: teman, tetangga, atau mereka yang sebangsa. Kita justru ngotot mempertahankan Bajaj modifikasi
produk
India,
ketimbang Kancil yang lebih modis, akrab lingkungan dan dibuahkan oleh keringat
bangsa sendiri. Kita lebih memilih bis-bis bekas Cina atau Jepang, truk-truk
besar Korea
dan Amerika dibanding Perkasa produk lokal. Begitupun kereta api senang
memborong gerbong apkiran daripada gerbong asli buatan Madiun yang sudah lama
diekspor.
Barangkali negara kita bukan saja
generasi pemangsa atau konsumtif, tapi juga pecandu apa pun yang bersifat
global, karena disanalah simbol kejayaan material terdapat. Simbol yang kadang
hanya terwakili oleh nama bukan substansinya.
Bahkan, tradisi, bukan hanya ia yang
mendekam di situs purbakala, di masyarakat kuno, gedung-gedung tua atau
mengendap di masa lalu, tapi juga yang kita pertahankan di masa kini di abad
baru ini, melalui sebuah pematangan (2007:91). Wayang kulit, gamelan, Candi
Borobudur, Ukiran Bali, Tari Jaipong, atau Lenong Betawi, bukan satu hal yang
hadir karena karbitan atau suntikan zat kimia. Tapi dari ketekunan, disiplin,
dedikasi, etos kerja dan bakat yang terasah bersama waktu. Ratusan dan ribuan tahun.
Karena adopsi teknologi modern oleh
Dunia Islam masih bersifat ad hoc dan
perennial (sepotong-sepotong) lanjut Cak Nur (1997:23), sehingga sebenarnya
kaum Muslim untuk tidak lebih dari sekedar sebagai pihak yang berada pada ujung
garis dinamika Iptek sebagai konsumen, bahkan sebagai pemakai akhir (end user). Tentu tidak ada salahnya,
namun jika hal itu tidak produktif, maka Kaum Muslim akan “ditakdirkan” sebagai
umat yang tergantung kepada umat lain. Jadi, semua tesis, keyakinan dan klaim
bahwa “Islam adalah paling unggul dan tidak akan diungguli oleh yang lain” akan
menjadi kosong dan muspra belaka.
Inilah juga yang dialami Muslim di
negeri ini. Sedikit-sedikit ikutan mode, tren, tanpa tau proses dengan liku dan
waktu yang amat panjang untuk membuat sebuah produk. Muslim di negeri ini tidak
menghiraukan perjuangan , keringat, waktu yang terbuang untuk mendedikasikan
diri menjadi pribadi yang unggul. Bagaimana Indonesia akan mampu bersaing dalam
kancah persaingan global. Atau jangan-jangan Indonesia akan terlaknat ancaman
Tuhan karena meninggalkan sebuah peradaban tertinggal yang didalamnya terdapat
generasi muda yang lemah (QS.An Nisa;9). Mudah-mudahan jangan.
Nasionalisme Muhammad Sebuah Jawaban
Sungguh,
manusia pilihan Tuhan itu telah datang, menjadi petunjuk bagi mereka yang
mengharapkan kebaikan Tuhan dan menunggu datangnya Kiamat tiba (Qs.Al
Ahzab:21). Ya, dialah Muhammad Sang Nabi Pamungkas Si Pembawa Pencerahan. Dia
yang dalam setiap gerak langkah hidupnya, setiap gagasan dan ide orisinilnya mampu
“menyihir” siapa pun, mampu mengubah peradaban dari keterpurukan ke dalam
kedamaian. Dialah contoh paling nyata yang sepatutnya dijadikan rujukan oleh
setiap umat di mana pun.
Berbicara tentang nasionalisme,
barangkali banyak yang telah memberi pengertian dan pemaparan. Lebih dari itu,
nasionalisme yang diuraikan dalam tulisan ini mengarah kepada dari mana dan ke
mana nasionalisme dikelola. Penting sekali dipahami, bahwa nasionalisme dalam term ini merujuk kepada kepribadian
Muhammad yang notabene mengarahkan nasionalisme yang tidak terjebak pada
ekslusivisme. Islam tidak berada di bawah bayang-bayang negara. Ada pergumulan yang
sinergis bahwa Muhammad tidak membawa manusia menuju Arabisasi tetapi menuju
kemanusiaan dalam ke-Ilahian.
Bahkan jika segala nilai hidup,
segala konsep dan isme, digali dan
dikelola oleh manusia (kualitas kepribadiannya), maka komitmen kebangsaan
Muhammad bukan saja tidak dibatasi oleh ras atau geografi. Bukan saja meluas ke
pembelaan atas kaum tertindas sebagai sebuah ‘bangsa’ tersendiri, namun bahkan
juga bersih dari kehendak kekuasaan dan nafsu ekonomi yang berlebihan. Muhammad
tidak mendirikan Negara Islam yang memaksa setiap warganya untuk beragama
Islam. Melainkan menyebarkan berita keselamatan setiap manusia dalam “laa ikraha fiddin” (1995:9).
Hal ini menjadi teramat penting guna
mendongkrak kembali semangat perjuangan bangsa ini yang kian terpuruk,
terkikis, bahkan nyaris habis. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang telah
dipupuk bertahun-tahun, cape dan melelahkan oleh seorang pejuang panji
kebenaran Tuhan. Semangat untuk terus berjuang, meratap, merenung dan
bertahun-tahun untuk mengubah keadaan kaumnya yang carut marut.
Kejahiliahan ketika jaman Nabi, kini
terjadi di Indonesia.
Bukan masa jahiliah yang identik dengan ketidaktahuan dalam membaca dan
menulis. Tetapi jahiliyah masa modern yang diartikan ketidaktahuan membaca,
mencermati, dan mencari solusi untuk keluar dari keterpurukan bangsanya.
Ketidakcermatan manusia untuk ‘membaca’ tanda dan kuasa Tuhan yang nampak di
bumi.
Keterpurukan Indonesia semakin terbukti dengan
sikap mental masyarakatnya yang lemah. Janganlah untuk maju bersaing dengan
negara-negara lainnya. Hanya sekedar untuk merenungkan apa tujuan hidupnya saja
belimpungan. Ditanya tentang sejarah perjuangan Muhammad yang telah di-azzamkan sebagai Rasul pilihan, masih
terbengong-bengong, bingung dan heran. Jika begitu mau kemana negara yang
memiliki umat Muslim terbesar di dunia ini?
Sangat wajar, jika mulai dari saat
ini, detik ini, kita semua belajar kembali mendalamai Al Quran. Belajar
mencermati denga teliti Al Quran berjalan itu. Ya, Al Quran berjalan. Dialah
Nabi Agung penutup para nabi, Muhammad bin Abdullah (HR. Ahmad dan Muslim dari
Aisyah Ra). Sebab dalam segala perbuatannya memberi pelajaran mahal bagi kita
untuk senantiasa berjuang, kerja keras, sabar, dan tawakal.
Jika Indonesia ingin bangkit, maka
lihatlah perjuangan dan kerja keras Muhammad. Ia tak pernah pantang menyerah
untuk mengubah kaumnya yang terpuruk. Ia membuktikan diri menjadi pribadi yang
layak dan patut untuk bersaing dengan umat dari bangsa mana pun. Ia membuktikan
dirinya bahwa semasa hidupnya mampu membuat imperium yang sangat mengangumkan.
Hingga kini, di abad modern super canggih sekalipun tak ada yang sanggup
menandingi kepribadiannya. Ia selalu dijajaran terdepan dalam segala bidang dan
kreatifitas apa pun.
Bangsa ini sedang terpuruk, sedang
meratap, bahkan tersungkur dari persaingan segala sektor di dunia. Sudah
saatnya kita singkirkan syak wasangka,
suudzon, merentang perbedaan apalagi
primoldialisme yang menjaga jarak untuk bersatu. Saatnya kita satukan langkah,
bahu membahu untuk menembus nasionalisme Muhammad guna menyongsong masa depan Indonesia yang
lebih baik lagi. Semoga.
Khatimah
Tanda-tanda
keterpurukan Indonesia nampak semakin jelas. Bahkan umat Islam yang berada paling banyak di negara
khatulistiwa ini tak bisa berkutik, diam, seolah terhanyut dalam gelombang arus
modernitas. Kaum Muslimin menjadi pribadi lemah, pengekor, dan tak punya jati
diri. Parahnya untuk sekedar menemukan siapa dirinya saja terasa sulit.
Kejahiliyahan yang merebak di negara
kita, membuat umat Muslim menutup mata dan berpura-pura tidak mendengar dengan
seruan Al Quran. Padahal mereka bisa saja melihat dan mencermati Sang Al Quran
berjalan itu, dialah Muhammad. Mereka bisa mengambil pelajaran berharga dari
perjuangan Sang Nabi. Keteladanan tentang kerja keras, keuletan, kesabaran dan
ketawakalan. Apalagi nasionalisme Muhammad yang memberi gambaran untuk terus
memperjuangkan kebenaran dan keadilan tanpa batas dan sekat ekslusivisme.
Akhirnya, nilai dan perjuangan di
mata Allah dan hakikat kebenaran tidak ditentukan oleh berhasil tidaknya suatu
perjuangan. Melainkan ditentukan oleh kesetiaan daya juang sampai batas yang
seharusnya dilakukan (dikutip oleh Agus Ahmad Safei dalam Ensilkopedi Pemikiran
Emha Ainun Nadjip, 2002:20).
Hidup tanpa tauhid tidaklah berarti,
hidup tanpa kemuliaan bagaikan sebuah kegelapan, hidup tanpa masa lalu yang
bersinar adalah musibah, hidup tanpa ada hal yang dapat dikenang adalah
kebinasaan, dan hidup tanpa keunggulan adalah sia-sia (Ali Yami, 2006:36).
Wallahu’alam
Daftar Pustaka
Al Quran dan
terjemahnya.
Agus Ahmad Safei, 2002, Ensiklopedi Al Quran Pemikiran Emha Ainun Nadjip: Negeri Yang Malang , Yogyakarta,
Tinta.
Alfathri Aldin, dkk, 2006, Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, Bandung, Jalasutra.
Emha Ainun
Nadjip, 1995, Nasionalisme Muhammad, Yogyakarta, SIPRESS.
Karen Armstrong,
2004, Sejarah Tuhan, Bandung, Mizan Media Utama.
Muhammad bin Sarrar Al Yami, 2006, Menjadi Manusia Unggul, Jakarta, Maghfirah Pustaka.
Muhammad Husain Haekal, 1992, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta,
Litera Antar Nusa.
Nurcholish
Madjid, 1997, Kaki Langit Peradaban
Islam, Jakarta,
Paramadina.
Radhar Panca dahana, 2007, Inikah Kita; Mozaik Manusia Indonesia, Yogyakarta,
Resist Book.